Jumat, 11 Desember 2020

Lima Film Cinta Berlatar Belakang Matematika

1. I.Q (1994)

I.Q. bercerita mengenai katerine, seorang dosen matematika yang berkeinginan untuk mempunyai turunan dengan gen yang terpilih dan pintar. Oleh karena itu, ia sudah naksir seorang psikiater angkuh yang memiliki nama James.

Tetapi rupanya, ada seorang teknisi yang lebay dan murah hati, Ed, jatuh hati pada pandangan awal dengan katerine. Pekerjaannya yang cuma seorang teknisi, pasti tidak masuk ke standar katerine.

Paman katerine yang disebut penduduk  paling disegani di Princeton, Albert Einstein, malahan kagum dan ketarik dengan Ed. Oleh karena itu, ia mulai mengajarkan teknik memakai pakaian dan bicara yang pas untuk seorang genius. Tidak lain dan tidak bukan, supaya Ed dapat mengundang perhatian katerine.

baca juga : Mengenal Al Khawarizmi Bapak Aljabar

I.Q dapat disebut selaku suatu sinema humor cerdik mengenai percintaan antara dua kasta. Film ini seakan memberitahu kita jika cinta itu ialah satu hal yang bisa diperjuangkan.



2. Good Will Hunting (1997)

Ini sinetron lama yang diluncurkan pada 1997, tapi masih pantas buat dilihat saat ini sebab sangat bermakna dan dalam ceritanya. Kekhasan pemerannya juga cukup menambahkan nilai jual dari film ini.

Sinema ini bukan sebatas film yang menyertakan matematika, namun juga mengenai penelusuran jati diri. tokoh sentralnya, Will, ialah seorang genius matematika yang tidak berasa dan tidak mengetahui akan kejeniusannya itu. Will ialah seorang petugas cleaning service di MIT. Ia bukan seorang profesor, atau juga pelajar deretan prestasi.

Satu hari, seorang Pengajar di MIT, Gerald Lambeu, memberikan masalah matematika yang sangat susah di papan tempat koridor universitas. Ia bermaksud memberikan ujian pada semua mahasiswanya. Tidak diduga, Will rupanya sukses menyelesaikannya dengan gampang.

Begitu kagetnya si profesor menyaksikan Will yang tidak pernah sekolah, tapi pintar dalam banyak sekali sektor studi dimulai dari matematika, seni, akuntansi, sastra sampai sejarah. Tetapi, Gerald Lambeu mengetahui jika Will perlu bantuan pribadi supaya kepintarannya itu tidak sia-sia.



3. A Beautiful Mind (2001)

Sinetron ini disadur dari satu biografi yang dicatat Sylvia Nasar untuk kembali mengenang Josh Nash. Josh Nash ialah seorang matematikawan dari Amerika yang beberapa karyanya di sektor teori, geometri diferensial, dan kesamaan diferensial partial menjadi pelopor untuk periset buat mendalami beberapa faktor yang mengendalikan peluang dan kejadian di kehidupan setiap hari.

Di film ini, Josh Nash dilukiskan selaku seorang periset matematika yang punyai karakter cukup apatis. Ia benar-benar pandai dan berprestasi, hingga ia diterima dalam suatu pusat riset berprestise yakni Wheeler Defense Lab di MIT. Tetapi di lain sisi, rupanya Josh Nash menderita  skizofrenia, yakni penyakit jiwa di mana dia tidak dapat membandingkan yang mana fakta dan yang mana ilusi.

Kehidupan Josh Nash segera berganti dikala ia disuruh untuk pecahkan code kriptografi sulit yang dikirimkan oleh Rusia, sekalian jadi agen rahasia. Ia benar-benar senang dengan tugasnya itu, sampai membuat ia lupa waktu. Tetapi dengan kepintarannya, ia sukses membuat teknik matematika untuk menerjemahkan code rahasia dari Rusia.

Sinema buatan Ron Howard ini sukses raih 4 trofi Oscar dari 8 nominasi. karena itu film ini benar-benar bagus untuk disaksikan jalan ceritanya. Mungkin saja sudut pandang kalian mengenai matematika dapat berganti sesudah melihat sinetron ini.



4. An Invisible Sign (2010)

Jika kata romeo, mencintai ialah memberi hati dan seluruh diri kita ke pujaan hati kita. dan kalau jika ditinggal oleh kekasih yang kita sayangi, hati kita turut hancur bersama kepergiannya. Lewat film ini, Mona menunjukkan jika hal tersebut tidak betul.

An Invisible Sign bercerita peristiwa Mona (Jessica Alba), seorang gadis 20 th yang mempunyai permasalahan kegalauan dan minimnya motivasi dalam kehidupan. Permasalahan itu ada pada Mona sejak bokapnya sakit.

Ia jadi introvert dan berputus harapan. Ia tidak melakukan lagi beberapa hal yang ia senangi, yang diantaranya ialah matematika. Walau sebenarnya, Mona ialah seorang wanita yang pintar. Ia mempunyai memory yang kuat dan IQ yang tinggi.

Satu saat, Mona tidak diterima lagi oleh ibunya dirumahnya, dan disuruh untuk ngajar matematika di SD. Walau tidak mempunyai pengalaman mendidik, Mona diterima di SD itu dan bisa menjadi guru matematika yang bagus dan sukses.

Di SD itu, dikit demi sedikit Mona mulai gaul. Ia jadi dekat sama seorang siswa pintar yang ibunya sedang kritis lantaran kanker. Tidak hanya itu, ia mengundang perhatian seorang guru sains yang cakep juga.



5. X+Y (2014)

Pasti aja ada love dalam matematika, sama seperti yang dilukiskan dalam sinema garapan BBC, X+Y atau A Brilliant Young Man. Nathan adalah anak autis yang kesusahan mengekspresikan emosi dan berhubungan sama orang lain. Tetapi, ketika melihat banyak nomor dia seperti melihat pola. Ia kemungkinan kesusahan mengerti manusia, tapi ia demikian jago dalam mengerti angka

Untungnya, keadaan ini disokong oleh lingkungan. Sekolah mengirimnya ke olimpiade matematika dan ia dilatih dengan seorang dosen matematika gila namanya Mr. Humphreys. Ia dapat mengerti Nathan dan memberi pendekatan edukasi yang membuat Nathan makin mahir dalam matematika.

baca juga : Matematika Adalah

Selanjutnya, Nathan sukses mengikut olimpiade matematika tingkat dunia. Di periode karantina, Nathan berjumpa dengan seorang murid dari Tiongkok. Pandangan pertma itu rupanya membuat Nathan rasakan suatu hal yang aneh. Memanglah, yang ini bukanlah produksi Hollywood, tetapi dapat disebut, sinema ini ialah sinema penuh romansa, yang dibungkus secara unik dan berkualitas.



Penutup

Matematika benar-benar terlihat kaku, tapi tidak juga harus serius. Film Hollywood di atas menunjukkan jika cinta dapat berjalan bersama-sama bersama matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar